Rabu, 16 Desember 2015

Laporan Validasi KJP di SMPN 143 Jakarta

Pendataan dan Validasi Realisasi Kartu Jakarta Pintar
di Sekolah Menengah Pertama 143 Cilincing– Jakarta Utara
dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama
Teach For Indonesia




Kelas           : LC53
Dosen          : Bpk. Dalmeri
Waktu         : Senin, 9 November  2015
Pukul           : 07.00 – 13.00
Lokasi         : SMP 143 Cilincing Jakarta Utara

Tim yang hadir:
Ketua         : Nira Vania Utami - 1701363950
Anggota     :
1.     Holy Nibenia Gea - 1701372356
2.     Indah Rachmania - 1701363414
3.     Intan Kartika Dewi - 1701334452
4.     Jeane Antonie Bagus - 1701303680
5.     Justika Ardianti - 1701342561
6.     Risma Zahrina - 1701339762
7.     Akhmad Muhadi MT - 1701339844

Tim yang tidak hadir: M. Nugradi Ramadhan

Berikut foto dari kelompok kami saat pelaksanaan kegiatan:


dari kiri ke kanan, Nira, Indah, Holy, Intan, Akhmad Muhadi, Risma dan Jeane.


I

BAGIAN ISI

           A.   Teori Mata Kuliah Character Building

          Mata kuliah character building di semester 5 ini membahas tentang “Professional Development” yang dimana kami akan mendapat pengajaran bagaimana cara untuk mengembangkan sikap professional kami sebagai mahasiswa di suatu organisasi atau lingkungan luar seperti dunia kampus, dunia kerja, dunia lingkungan sosial atau kemasyarakatan, dan sebagainya. Pada awal pengajaran mata kuliah ini kami mendapat pembahasan materi mengenai teori etika, etika professional, bagaimana membuat keputusan yang etis, dan aspek etika dalam penggunaan teknologi informasi.
Seperti diketahui, Etika adalah suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk mentatati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat atau suatu organisasi. Berdasarkan Prinsip Teori Etika bahwa anggota kelompok sudah ulet dalam mengerjakan tugas CB professional Development yang dimana teori tersebut berbunyi “Keuletan pada prinsipnya berkaitan dengan ketahanan dalam menghadapi situasi yang sulit dan keberanian untuk mengambil risiko kecil ataupun besar.” (Bertens, 2000:79) yaitu dapat dilihat bahwa kami berani mengambil risiko untuk pergi ke cilincing menahan situasi sulit yang dimana kami harus sabar menunggu dan mungkin SMPN 143 jakarta belum mendapat penjelasan adanya pendataan KJP oleh mahasiwa – mahasiswi sehingga SMPN 143 Jakarta kaget dan belum begitu mempersiapkan. Maka disinilah kami belajar untuk mengembangkan rasa professional kami di suatu instansi pendidikan yaitu dengan memikirkan bagaimana cara izin untuk melakukan kegiatan di sekolah tersebut dengan baik, lalu bagaimana berpakaian dengan rapih lalu memakai jaket almamater kampus agar lebih terlihat formal saat melakukan kegiatan, dan berusaha memiliki etika yang baik saat melakukan kegiatan yang dimana dalam pelaksanaan kegiatan tersebut harus bersikap santun, disiplin dan memiliki rasa tanggung jawab.

B.  Persiapan Kegiatan Validasi Kartu Jakarta Pintar (KJP)

Persiapan untuk melakukan pendataan KJP kami datang survey 2 minggu sebelum pelaksanaan kegiatan untuk mengetahui letak persis SMPN 143 Jakarta Utara, pada pelaksanaan survey anggota yang ikut yaitu Nira, Indah, Holy, Intan dan Akhmad Muhadi.
Kami melakukan pendataan KJP SMPN 143 Jakarta dua minggu setelah SDN 02 Srengseng. Kami melakukan pendataan KJP pada tanggal 10 November 2015 yaitu tepat dengan hari pahlawan kami berangkat pada pukul 05.30 dari Kemanggisan  dan sampai di Cilincing yaitu pukul 07.00 sayangnya sampai situ kami tak langsung mendata siswa kami harus menunggu sekitar 1 jam menunggu berakhirnya upacara karena bertepatan dengan hari pahlawan kami menunggu diluar dari sekolah dimana kami parkir didaerah yang agak jauh dari sekolah dikarenakan letak sekolah berada di dalam perumahan warga dan didalam gang sempit.
Selesai upacara berakhir kami langsung datang untuk menemui Kepala Sekolah tapi yang kami temui ialah Wakil Kepala Sekolah dan memberi tahu maksut dan tujuan kami. Akan tetapi beliau mengeluh akan kertas surat jalan yang diberikan dari TFI karena beliau menginginkan surat tersebut dituliskan langsung alamat sekolah SMPN 143 Jakarta dan mungkin pihak sekolah juga belum mengetahui kalau ada mahasiswa yang akan melaukan validasi data KJP disekolah tersebut. Kemudian kami tidak langsung mendata anak – anak KJP dikarenakan adanya rapat antar guru dan kami harus menunggu 2 jam yang kira – kira pelaksanaan baru dimulai sekitar jam 10.00 dan interview kami lakukan di halaman sekolah. Kami melakukan wawancara 73 anak seharusnya 80 anak dikarenakan alasan sekolah yaitu anak – anak KJP ada yang tidak masuk sekolah sehingga kami hanya dapat mewawancara 73 anak, untuk KJP itu sendiri ada 400 anak di SMPN 143 Jakarta Utara, Cilincing. Interview pun selesai pada pukul 13.00 setelah itu kami ke Kepala Sekolah untuk meminta validasi pendidikan dan dokumentasi dengan guru – guru. Lalu pamit izin pulang kepada pihak sekolah dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan waktunya dalam membantu kegiatan kami melakukan validasi KJP.

C.   Bukti Pengisian Data KJP di Google Docs

Berikut bukti foto screenshot atas pengisian data sekolah yang dimana kami mewawancarai pihak TU yang khusus memegang bagian KJP bernama Ibu Mustika.






















Berikut bukti foto screenshot atas pengisian data siswa yang mendapat KJP. Kami hanya menampilkan satu siswa, akan tetapi kami sudah input ke google docs sebanyak 78 siswa penerima KJP.






          D.   Pengukuran Kinerja Kelompok

Dalam pengukuran kinerja kami melakukan dua survey yaitu survey dari pihak eksternal yaitu SMPN 143 Jakarta dan survey dari pihak internal yaitu kelompok kami sendiri.
   1.     Survey Eksternal

     Pada survey eksternal kami memberikan form evaluasi kegiatan kepada pihak sekolah dan meminta saran atau pesan atas kegiatan validasi KJP yang telah kami lakukan. Isi saran atau pesan dari pihak sekolah yaitu menerangkan bahwa kehadiran para mahasiswa cukup santun dan baik dalam melakukan kegiatan lalu pihak sekolah menyarankan copy hasil observasi untuk diberikan sebagai arsip sekolah.

Berikut bukti lampirannya: (Form Evaluasi Kegiatan)




  2.     Survey Internal

Dalam suatu kelompok, masing-masing anggota memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Yang bisa dijadikan contoh dalam kegiatan yaitu pertama adalah Nira Vania Utami selaku ketua kelompok karena bertanggung jawab tinggi, tegas dalam membuat keputusan sehingga tugas kelompok ini bisa berjalan dan terselesaikan, disiplin waktu yang dimana ia mengatur untuk pergi ke Cilincing jam 5 pagi agar tidak telat dan santun pula dalam berkomunikasi dengan pihak sekolah. Yang kedua yaitu Indah Rachmania dimana ia yang bisa disebut juga sebagai wakil ketua kelompok karena ia juga memiliki tanggung jawab tinggi, disiplin terhadap tugas dan juga memiliki ide-ide dalam membuat laporan kegiatan ini. Yang ketiga yaitu Akhmad Muhadi dimana ia sebagai anggota cowok sendiri dalam kelompok kami yang ikut dalam pelaksanaan KJP di SMPN 143 Jakarta dan bisa berkorban untuk menjemput dan mengantarkan kami dengan kendaraannya padahal rumah dia dari Bekasi dan ia bersedia pula untuk berangkat subuh dari rumahnya karena dari situlah bisa terlihat kalau dia niat dalam mengerjakan tugas dan tidak malas dalam mendapatkan nilai baik untuk kegiatan ini dibanding anggota cowok lainnya yaitu M.Nugradi Ramadhan yang tidak ikut melaksanaan kegiatan dan tidak memberi kabar apapun serta berperan pasif. Dan untuk anggota lain yaitu Holy Nibenia, Intan Kartika, Jeane Antonie, dan Risma Zahrina juga baik kinerjanya karena masih bisa berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan dan bertanggung jawab atas tugasnya.

II
BAGIAN PENUTUP

A.   Kesimpulan Hasil Pengecekan KJP

Hasil pengecekan KJP di SMPN 143 Jakarta telah sesuai dari data yang diberi pihak TFI yaitu ada 412 orang, namun kami hanya bisa mewawancarai sekitar 78 anak dan tidak sesuai target 20% dari jumlah penerima KJP  yaitu sekitar 80an anak, dikarenakan pihak sekolah mengatakan kalau ada beberapa siswa-siswi penerima KJP tersebut yang tidak masuk. Berdasarkan hasil wawancara kepada siswa-siswi tersebut mereka sangat berusaha untuk bersikap jujur dan berkata apa adanya dalam menjawab pertanyaan kami. Dan sekolah memang sudah tepat dalam menentukan siswa penerima KJP. Sesuai informasi yang kami dapat sekolah ini juga benar-benar melakukan survey terhadap masing-masing siswa – siswi penerima KJP dan melakukan arsip struk bukti pembelanjaan para siswa – siswi penerima KJP. Pengurusan Kartu Jakarta Pintar di sekolah ini sangat terorganisir dengan baik karena memang ada orang khusus yang mengurusnya dan fokus dibagian KJP yaitu bernama Ibu Mustika.

Berikut bukti foto struk pembelajaan yang kami dapat dari sekolah:


 Berikut foto saat ketua kelompok mewawancarai Ibu Mustika:



Dan ini hasil foto validasi pendidikan yang telah kami wawancarai dari pihak Tata Usaha disekolah:


Dapat disimpulkan berdasarkan kegiatan yang kami lakukan adalah mewawancarai siswa – siswi yang mendapat Kartu Jakarta Pintar (KJP). Kegiatan ini meningkatkan kepercayaan dan tingkat sosialisasi siswa – siswi yang masih sekolah. Mengajarkan mereka untuk jujur dan bersikap wajar sesuai dengan umur mereka. Melalui kegiatan ini, kami juga belajar untuk bersosialisasi dengan para guru dan siswa – siswi. Dan oleh sebab itu kami telah mencapai tujuan dalam kegiatan ini yaitu:
a. Paham tentang fasilitas Pemerintah khususnya Pemprov DKI untuk masyarakat khususnya bidang pendidikan.
b.Dapat memastikan bahwa fasilitas pemerintah sesuai dan diterima oleh warga yang ber Hak terhadap fasilitas tersebut.
c.Membantu pendataan secara benar dan efektif agar penyaluran bantuan dapat berjalan dengan lancar kepada masyarakat.

B.   Next To Do

Berdasarkan informasi dari Bpk. Tangkas (pihak TFI) saat meminta data SMPN 143 Jakarta bahwa di sekolah tersebut tidak ada data yang 8355, oleh sebab itu kami melakukan kegiatan hanya sekali disekolah tersebut yaitu hanya melakukan validasi Kartu Jakarta Pintar.  Oleh sebab itu tidak ada evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.
C.   Informasi Jumlah Peserta

Hasil yang kami dapatkan dari data TFI  bahwa penerima KJP di SMPN 143 Jakarta ada 412 orang siswa. Lalu berdasarkan panduan yang kami dapat dari TFI apabila siswa penerima KJP berjumlah 150 – 300 bahkan kami mendapat 412 data maka data yang harus dikumpulkan dari sekolah tersebut minimal 20% dari jumlah data peserta atau sebanyak 80an. Akan tetapi, jumlah yang kami dapatkan saat wawancara hanya sebanyak 70an siswa, karena ada beberapa siswa-siswi yang tidak masuk dan tidak bisa diwawancara.



III
LAMPIRAN FOTO KEGIATAN









NOTE: mohon maaf atas keterlambatan laporan ini, karena pada dasarnya saat awal kegiatan kami tidak terlalu memahami dalam membaca panduan kalau laporan harus dibuat seminggu setelah kegiatan, kami harap pengertiannya. Sekian laporan blog atas kegiatan kami.
Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar